MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGGUNAKAN
ALAT MIKROSKOP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
DIRECT INSTRUCTION PADA SISWA KELAS IX
DI MTs. MUHAMMADIYAH PACIRAN LAMONGAN
Disusun
Dalam Rangka Pengembangan Profesi Guru
OLEH
:
MUHAJIR,
S.Pd
NIP.
197509272005011002
KEMENTERIAN
AGAMA KABUPATEN LAMONGAN
MTs.
MUHAMMADIYAH
PACIRAN
LAMONGAN
TAHUN
2014/2015
LEMBARAN PENGESAHAN
I.
JUDUL : MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENGGUNAKAN
ALAT MIKROSKOP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
DIRECT INSTRUCTION PADA SISWA KELAS IX
DI MTs. MUHAMMADIYAH 09 WERU PACIRAN LAMONGAN
__________________________________________________________________
II.
IDENTITAS PENELITI :
Nama :
MUHAJIR, S.Pd
NIP : 197509272005011002
Gol/Ruang : III/d
Unit Kerja : DPK Di MTs. Muhammadiyah
_____________________________________________________________________
III. LOKASI
PENELITIAN : MTs.Muhammadiyah
__________________________________________________________________
IV.
LAMA PENELITIAN : 1
bulan ( 10 September – 10 Oktober
2014 )
____________________________________________________________________
V.
BIAYA PENELITIAN : Mandiri
________________________________________________________________
Lamongan, 24 Oktober 2014
Peneliti,
MUHAJIR, S.Pd
NIP: 197509272005011002
Mengetahui/Mengesahkan
Kepala Madrasah
A B S T R A
K
Muhajir, 2014, Meningkatkan Keterampilan Menggunakan Alat
Mikroskop Melalui Model Pembelajaran Direct Instruction, Penelitian Tindakan
Kelas (PTK).
Kata-kata kunci : Mikroskop, Model Pembelajaran Direct Instruction, Benda
ukuran Mikroskopis, Pengetahuan deklaratif, Pengetahuan Prosedural, Latihan
terbimbing, Latihan Lanjutan.
Kurikulum KTSP mata pelajaran IPA yang berlaku di tingkat
Madrasah Tsanawiyah saat ini terdapat sejumlah materi ajar yang menuntut para
siswa melaksanakan tugas praktek mengamati suatu obyek menggunakan alat
mikroskop. Siswa diharuskan mampu mengamati gejala-gejala kehidupan mulai dari
tingkat sel, tingkat jaringan hingga sistem organ secara baik.
Tujuan PTK ini adalah 1. Memiliki gambaran model
pembelajaran direct intruction dapat meningkatkan keterampilan siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop secara benar.
2. Mengidentifikasi model pembelajaran direct intruction dapat memperbaiki
konsep yang salah pada siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop.
Subyek penerima tindakan adalah seluruh siswa kelas IX
semester gasal tahun pelajaran 2014/2015 di MTs. Muhammadiyah 09 Weru kecamatan
paciran kabupaten lamongan.
Metode pengumpulan data yang dilakukan peneliti bersama
guru mitra kolaborasi pada PTK ini melalui pencatatan hasil di lapangan
meliputi tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi
sampai dengan siklus III. Data yang sudah diperoleh dianalisis bersama-sama
berdasarkan kajian pustaka dan interpretasi berdasarkan pengalaman guru.
Hasil PTK ini adalah 1. Keterampilan siswa menggunakan alat
mikroskop selama proses pembelajaran dengan model direct instruction dapat
muncul dan menunjukkan peningkatan yang baik. 2. Aktivitas siswa untuk
mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri mulai dari sikap siswa saat
pembelajaran hingga pembuatan hasil laporan praktikum menunjukkan peningkatan
yang signifikan.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur
alhamdulillah kehadirat Allah SWT.
karena atas pertolonganNya maka PTK ini dapat kami selesaikan dengan
baik dan lancar, sekaligus melaporkan PTK ini dalam bentuk karya tulis ilmiah.
Laporan PTK ini disusun untuk
diajukan kepada Tim Penilai Pengembangan Profesi jabatan guru, yang sesuai
dengan : 1. Undang‐Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. 2. Undang‐Undang
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dan 3. Peraturan Pemerintah Nomor
74 tahun 2008 tentang Guru.
Kepada
kepala madrasah MTs.
Muhammadiyah 09 Weru dan semua guru di MTs. Muhammadiyah 09 Weru, khususnya
guru mitra kolaborasi, kami sampaikan terima kasih atas segala motivasi,
pertolongan dan partisipasinya dalam pembuatan PTK ini.
Demikian laopran PTK ini kami susun
dengan sesungguhnya, semoga bermanfaat. Amin.
Lamongan,
25 OKTOBER 2014
Penulis,
MUHAJIR,
S.Pd
NIP. 197509272005011002
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
.................................................................................................
i
HALAMAN PENGESAHAN
...................................................................................
ii
ABSTRAK ................................................................................................................
iii
KATA PENGANTAR
..............................................................................................
iv
DAFTAR ISI
.............................................................................................................
v
BAB I :
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
.................................................................................
1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................................
3
C. Rumusan Masalah ..........................................................................................
4
D. Tujuan Penelitian ............................................................................................
4
E. Hipotesis Penelitian ........................................................................................
5
F. Manfaat Hasil Penelitian .................................................................................
5
BAB II : KAJIAN
PUSTAKA
A. Mikroskop ........................................................................................................
6
A. 1. Macam-macam Mikroskop ......................................................................
7
A. 2. Bagian-bagian Mikroskop .......................................................................
8
A. 3. Cara Menggunakan Mikroskop .............................................................
10
A. 4. Cara Menyimpan Mikroskop Secara Aman ..........................................
11
A. 5. Cara Membuat Preparat (Specimen) ....................................................
12
B.
Model Pembelajaran Direct Instruction
.......................................................... 12
B.1.
Sintaks Model Pembelajaran Direct Instruction .....................................
14
BAB III : METODE PENELITIAN
A. Obyek Tindakan ............................................................................................
16
B. Setting Lokasi Dan Subyek
Penelitian .......................................................... 16
C. Metode Pengumpulan Data ..........................................................................
17
D. Metode Analisis Data ....................................................................................
17
BAB IV : HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Seting Penelitian .........................................................................
18
B. Penjelasan Tiap Tahapan (Siklus)
................................................................ 19
C. Proses Analisis Data .....................................................................................
23
D. Pembahasan Dan Pengambilan
Kesimpulan ............................................... 32
BAB V : KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan ...................................................................................................
38
B. Saran ............................................................................................................
38
DAFTAR PUSTAKA
.................................................................................................
39
LAMPIRAN ..............................................................................................................
40
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah.
Dalam sebuah proses
pembelajaran faktor guru, siswa, materi ajar, media pembelajaran, metode
pembelajaran dan lingkungan belajar sangat mempengaruhi terhadap kualitas kegiatan
proses belajar mengajar yang sedang diklaksanakan. Tidak berkembangnya salah
satu faktor saja akan berdampak pada hasil belajar siswa. Umpama, dalam
mencapai tujuan instruksional pembelajaran, seorang guru kurang tepat memilih
strategi pembelajaran yang dirancangnya, maka dapat berpengaruh pada pemahaman
siswa. Dengan demikian ketidakmaksimalan pemahaman materi ajar yang diterima
oleh siswa bukan karena semata-mata faktor siswanya. Melainkan bisa datang dari
faktor gurunya. Sebagaimana Chabibah (2006) mengatakan bahwa melalui pemilihan
dan pengelolaan strategi pembelajaran yang tepat, efektif dan efisien merupakan
awal keberhasilan suatu pembelajaran, sehingga mampu meningkatkan prestasi
belajar siswa.
Kurikulum KTSP mata
pelajaran IPA yang berlaku di tingkat Madrasah Tsanawiyah saat ini terdapat
sejumlah materi ajar yang menuntut para siswa melaksanakan tugas praktek
mengamati suatu obyek yang berukuran mikro yang tidak kasat mata sehingga
membutuhkan alat bantu seperti alat mikroskop.
Masalahnya adalah jika alat mikroskop sudah
tersedia di laboratorium madarasah, apakah siswa kelas IX madrasah Tsanawiyah
muhammadiyah 09 weru paciran mempunyai keterampilan menggunakan alat mikroskop
secara baik dan benar.
Mempelajari alat
mikroskop secara baik dan benar tidak cukup hanya secara konvensional seperti
cukup melihat gambarnya saja. Perlu menghadirkan alat mikroskop asli secara
nyata di hadapan para siswa. Begitu juga dalam menjelaskan bagian-bagian
mikroskop beserta fungsinya tidak bisa secara teoritis. Karena bisa berdampak
salah persepsi pada tingkat pemahaman konsep. Dan apabila kesalahan konsep
sudah terjadi pada siswa, maka akan berdampak kurang baik pada pengalaman dan
pemahaman konsep belajar siswa selanjutnya.
Berawal dari
permasalahan ini maka perlu dicarikan sebuah model pembelajaran yang efektif
dan komprehensif dalam mempelajari alat mikroskop. Diantaranya adalah
menggunakan model pembelajaran direct intruction. Karena pada model
pembelajaran direct intruction terkandung keseimbangan antara penguatan
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural, yang memungkinkan siswa akan
lebih mudah belajar. Dan di dalam pembelajaran direct intruction diberikan
latihan secara terbimbing. Selanjutnya pemahaman
siswa akan dicek melalui umpan balik serta diberikan kesempatan untuk pelatihan
lanjutan dan penerapannya.
B.
Identifikasi
Masalah.
Bahwasanya model
pembelajaran konvensional (teoritis dan ceramah) tidak relevan digunakan untuk meningkatkan
keterampilan dan hasil belajar siswa dalam menggunakan alat mikroskop secara
komprehensif, karena kemungkinan besar dapat menimbulkan salah pemahaman
konsep. Sebab untuk mempelajari alat mikroskop perlu menghadirkan alat
mikroskop asli secara nyata di hadapan para siswa. Alat tersebut tidak bisa
digantikan dengan gambar, karena dapat menimbulkan pemahaman yang over laping
pada kognisi siswa.
Pemlihan Model
pembelajaran direct intruction karena di dalamnya terkandung keseimbangan
antara penguatan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural secara
terbimbing, sehingga belajar lebih efektif, efisien dan menyenangkan.
C.
Rumusan
Masalah.
Adapun
rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.
Apakah menggunakan model pembelajaran direct intruction dapat meningkatkan
keterampilan siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop secara benar?
2. Sejauh manakah model pembelajaran direct
intruction dapat meningkatkan hasil prestasi siswa dalam menggunakan alat
mikroskop?
D.
Tujuan
Penelitian.
Tujuan
penelitian ini adalah:
1. Memiliki
gambaran model pembelajaran direct intruction dapat meningkatkan keterampilan
siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop secara benar.
2.
Mengidentifikasi model pembelajaran
direct intruction dapat meningkatkan hasil prestasi siswa kelas IX dalam menggunakan alat
mikroskop.
E.
Hipotesis
Penelitian.
Hipotesis
penelitian ini adalah:
1.
Jika model pembelajaran direct intruction digunakan maka keterampilan menggunakan alat mikroskop siswa kelas IX dapat
meningkat.
2. Jika model pembelajaran direct intruction
digunakan maka konsep yang salah pada siswa kelas IX dalam menggunakan alat
mikroskop dapat diperbaiki.
F.
Manfaat
Hasil Penelitian.
Hasil
penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengelolaan pembelajaran, khususnya bagi
guru yang mengajar IPA tingkat SLTP/MTs, yaitu:
1.
Memiliki gambaran tentang model pembelajaran direct intruction dapat meningkatkan
keterampilan siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop secara efektif dan
efisien.
2. Dapat mengidentifikasi sejauh
mana model pembelajaran direct intruction dapat memperbaiki konsep yang salah
pada siswa kelas IX dalam menggunakan alat mikroskop.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Mikroskop.
Pada abad ke-16
seorang ilmuwan Belanda bernama Antonie Van Leewenhoek menemukan suatu alat
yang dapat melihat benda atau makhluk hidup yang berukuran sangat kecil
(mikkroskopis) yang tidak terlihat oleh mata biasa menjadi dapat terlihat
dengan jelas. Alat tersebut diberi nama mikroskop. Mikroskop adalah suatu alat
yang digunakan untuk melihat benda atau makhluk hidup berukuran sangat kecil
(mikroskopis) yang tidak terlihat oleh mata biasa. Melalui mikroskop bayangan benda
atau makhluk hidup yang sangat kecil dapat diperbesar ratusan kali lipat dari
ukuran benda aslinya.
Mikroskop yang
sering digunakan di sekolah adalah mikroskop monokuler atau disebut juga
mikroskop cahaya. Kata monokuler berasal dari bahasa latin, yaitu mono yang artinya satu dan oculus yang artinya mata. Benda atau
obyek (preparat) yang akan diamati menggunakan mikroskop ini harus memiliki
ukuran yang tipis dan transparan, sehingga preparat yang akan diamati tersebut
dapat ditembus oleh cahaya. Apabila obyek (preparat) yang akan diamati
berukuran tebal, maka gambar bayangan yang dihasilkan menjadi kurang baik. Sehingga berpengaruh terhadap kualitas
pengamatan.
A.1.
Macam-macam Mikroskop.
Macam-macam
mikroskop yang sering digunakan adalah:
1.
Mikroskop Biologi
Mikroskop biologi digunakan untuk
mengamati benda yang berukuran tipis dan transparan. Dalam pemakaiannya sampel
benda yang akan diamati (specimen) harus disayat sangat tipis agar benda
tersebut dapat ditembus oleh cahaya, sehingga gambar yang diperoleh tampak
jelas saat diamati di bawah mikroskop.
2.
Mikroskop Stereo
Mikroskop
stereo digunakan untuk mengamati permukaan obyek yang tebal dan tidak
transparan. Dengan mikroskop stereo hasil gambar yang diperoleh lebih jelas.
Seperti saat mengamati permukaan kulit cacing yang masih hidup atau hewan yang
lain. Dimana permukaan tubuhnya tebal dan tidak tembus cahaya. Obyek yang
memiliki karakteristik demikian dapat dilihat secara jelas dengan menggunakan
mikroskop stereo.
3.
Mikroskop Elektron
Mikroskop elektron
ditemukan pada tahun 1960, mempunyai daya resolusi atau kemapuan daya beda mata
yang jauh lebih baik dari mikroskop cahaya. Dapat memperbesar obyek sampai 45
juta kali dam dapat mengamati preparat hidup maupun preparat mati. Biasanya miokroskop
ini digunakan diperguruan tinggi.
A.2.
Bagian-bagian Mikroskop.
Bagian
mikroskop terdiri dari dua bagian, yaitu:
1.
Bagian Mekanik.
Pada bagian mekanik terdiri dari:
a. Kaki
mikroskop, berfungsi untuk menyangga mikroskop
b. Sendi
inklinasi, berfungsi sebagai penghubung antara kaki dengan lengan mikroskop, sehingga dapat diatur sedemikian
rupa sudut kemiringan mikroskop menjadikan nyaman saat digunakan.
c.
Pengatur kondensor,
berfungsi untuk menaik-turunkan kondensor.
d. Kondensor,
berfungsi untuk menfokuskan cahaya ke benda yang sedang diamati.
e. Lengan
mikroskop, berfungsi sebagai pegangan mikroskop.
f.
Engsel penggerak,
berfungsi sebagai penghubung lengan dengan kaki mikroskop.
g. Meja
preparat, berfungsi untuk meletakkan preparat yang akan diamati.
h. Diafragma,
berfungsi untuk mengatur banyak sedikit sinar yang dipantulkan cermin menuju
mata.
i.
Penjepit preparat (pemegang
sediaan), berfungsi untuk menjepit preparat agar tidak mudah bergeser.
j.
Tabung (Tubulus),
berfungsi untuk menghubungkan antara lensa obyektif dengan lensa okuler.
k. Revolver,
berfungsi untuk tempat lensa obyektif.
l.
Sekrup pemutar
kasar, berfungsi untuk menggerakkan tabung mikroskop secara cepat dari atas ke
bawah atau sebaliknya.
m. Sekrup
pemutar halus, berfungsi untuk menggerakkan tabung ke arah atas dan bawah atau
sebaliknya secara lambat. Alat ini dipakai jika obyek telah terfokus dengan
pemutar kasar.
2.
Bagian Optik.
Pada bagian optik
terdiri dari:
a. Cermin,
yaitu terdiri dari cermin datar dan cermin cekung. Cermin berfungsi untuk
mencari, mengumpulkan dan memantulkan sinar ke arah preparat yang diamati.
Cermin datar digunakan saat sumber cahaya terang. Cermin cekung digunakan saat
cahaya kurang terang.
b. Lensa
obyektif, berfungsi untuk memperbesar bayangan obyek dari ukuran semula.
Terletak di revolver.
c.
Lensa okuler,
berfungsi untuk memperbesar bayangan obyek dari ukuran semula. Terletak di
ujung atas tabung (tubulus).
A.3.
Cara Menggunakan Mikroskop.
1. Menemukan
Lapang Pandang Dengan Mengatur Penyinaran.
Untuk menghasilkan lapang pandang adalah
dengan mengatur cermin sedemikian rupa sambil mata mengintip ke lensa okuler.
Memastikan sinar yang dipantulkan oleh cermin masuk ke diafragma terpantul
secara optimal.
2. Mengatur
Fokus Mikroskop Dengan Perbesaran Lemah.
Letakkan preparat di atas meja peparat,
bila perlu dijepit dengan penjepit preparat. Gunakan lensa obyektif dengan
perbesaran 40 kali, dan lensa okuler dengan perbesaran 10 kali. Tabung
mikroskop diturunkan dengan pemutar kasar secara hati-hati hingga posisi lensa
obyektif sangat dekat dengan permukaan preparat, namun tidak sampai menyentuhnya.
Kemudian intip melalui lensa okuler dan putarlah ke arah depan pemutar kasar mikroskop secara perlahan-lahan
hingga obyek terlihat jelas. Setelah obyek tampak, putar pemutar halus ke arah
depan atau ke arah belakang sehingga mendapatkan bayangan obyek yang diamati tampak
jelas dan fokus.
3. Mengatur
Fokus Mikroskop Dengan Perbesaran Kuat.
Untuk medapatkan perbesaran bayangan obyek
yang kuat, dapat dilakukan dengan mengubah lensa obyektif yang menepel pada
revolver. Putarlah revolver sampai terdengar suara berdetak (klik). Lensa
obyektif yang dipilih berkekuatan perbesaran 50 atau 100 kali. Putarlah pemutar
halus ke arah depan atau ke arah belakang sehingga mendapatkan bayangan obyek
yang diamati tampak jelas dan fokus.
A.4.
Cara Menyimpan Mikroskop Secara Aman.
Setelah mikroskop
selesai digunakan, aturlah mikroskop dengan posisi siap disimpan dengan cara
sebagai berikut:
1. Tabung
mikroskop dinaikkan, dengan cara memutar pemutar kasar ke arah belakang.
2. Preparat
yang terletak di atas meja sediaan diambil.
3. Lensa
obyektif terlemah diturunkan serendah-rendahnya dengan cara memutar pemutar
kasar mikroskop ke arah depan. Pastikan posisi lensa obyektif persis masuk pada
lubang meja mikroskop.
4. Diafragma
ditutup kembali.
5. Kondensor
diturunkan dengan cara memutar ke arah belakang pengatur kondensor.
6. Cermin
diatur dalam posisi tegak.
7. Angkatlah
mikroskop dengan hati-hati, dimana posisi tangan kanan memegang lengan
mikroskop dan tangan kiri menopang kaki mikroskop.
8. Masukkan
mikroskop ke tempatnya dan dikunci.
A.5.
Cara Membuat Preparat (Specimen).
1. Membuat Preparat
Tanpa Sayatan.
Untuk membuat preparat basah tanpa
sayatan, misalnya saat pengamatan mikroorganisme yang ada dalam air. Caranya
adalah air yang akan diamati diambil menggunakan pipet tetes. Tempatkan satu
tetas air yang diambil menggunakan pipet tersebut pada kaca obyektif. Tutuplah
kaca obyek dengan kaca penutup obyek. Mikroorganisme yang ada dalam air siap
diamati.
2. Membuat Preparat
Dengan Sayatan.
Membuat preparat dengan sayatan, misalnya saat
pengamatan bagian organ tubuh organisme, seperti daun, batang, akar, otot dan
lain-lain. Caranya adalah menyayat organ yang dimaksud setipis mungkin agar
benda tersebut tampak jelas saat diamati di bawah mikroskop. Untuk membuat
sayatan yang baik dan tipis dapat menggunakan alat iris yang disebut pisau
mikrotom. Tetapi apabila tidak memiliki dapat menggunakan silet yang tajam.
B.
Model
Pembelajaran Direct Instruction.
Strategi
model pembelajaran direct instruction mengandung penguatan pengetahuan
deklaratif dan prosedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang
sesuatu, dapat berupa fakta, konsep, prinsip atau generalisasi. Sedangkan
pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan
sesuatu. Meskipun tujuan pembelajaran model pembelajaran direct instruction
dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, namun model pembelajaran ini
tetap memposisikan guru sebagai pusat informasi berbagai latar belakang
pengetahuan dan petunjuk berlatih keterampilan. Sehingga seyogyanya saat guru menggunakan
model pembelajaran ini harus menguasai konsep secara baik dan menyediakan berbagai
media pembelajaran yang sesuai, misalnya, tape recorder, gambar, alat peragaan
dan sebagainya.
Pembelajaran
direct instruction perlu perencanaan dan pelaksanaan yang sangat berhati-hati
di pihak guru. Agar efektif maka diperlukan rumusan pembelajaran yang sangat
jelas dan rinci tentang isi konsep, keterampilan, demonstrasi dan perhatian saat
menerima umpan balik. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru
harus menjamin terjadinya proses belajar yang efektif pada siswa, terutama
melalui pengamatan, mendengarkan dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini
tidak berarti guru melaksanakan pembelajaran yang bersifat otoriter, kaku dan
tanpa humor. Melainkan pembelajaran yang berorientasi pada tugas yang
memungkinkan siswa dapat belajar dengan nyaman dalam mencapai hasil belajar
yang baik.
B.1.
Sintaks Model Pembelajaran Direct Instruction.
Tujuh langkah
Sintaks Model Pembelajaran Direct Instruction
1. Menyampaikan
tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa.
Dalam tahap ini guru menyampaikan TPK,
informasi latar belakang pembelajaran, pentingnya pelajaran, menformulasikan hal-hal
yang harus dipelajari, kinerja siswa yang diharapkan dan menyiapkan siswa.
2. Mereview
pengetahuan dan keterampilan prasyarat.
Guru mengajukan pertanyaan untuk
mengungkap pengetahuan dan keterampilan awal yang telah dikuasai oleh siswa.
3. Menyampaikan
materi pelajaran dan mendemonstrasikan keterampilan.
Guru menyampaikan materi, menyajikan
informasi, memberikan contoh-contoh dan mendemonstrasikan keterampilan dengan
benar tahap demi tahap secara urut.
4. Melaksanakan
bimbingan.
Guru merencanakan dan memberi bimbingan awal,
dengan cara mengajukan pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan
mengoreksi kesalahan konsep.
5. Memberikan
latihan terbimbing.
Guru memberikan latihan awal dengan cara
memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilannya atau
menggunakan informasi baru secara individu ataupun secara kelompok yang masih
tetap dalam pengawasan guru.
6. Mengecek
pemahaman, menilai kinerja siswa dan memberi umpan balik.
Guru mengecek apakah siswa telah berhasil
melakukan tugas dengan baik. Guru juga memberikan review terhadap hal-hal yang
telah dilakukan oleh siswa dan memberikan umpan balik serta respon siswa. Jika
diperlukan, harus ada pengulangan keterampilan.
7. Memberikan
kesempatan latihan lanjutan dan penerapannya.
Guru dapat memberikan tugas mandiri secara
individu atau secara kelompok kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman dan
keterampilanya terhadap materi yang kompleks yag telah mereka pelajari, khususnya
penerapan pada kehidupan sehari-hari.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Obyek
Tindakan.
Yang menjadi obyek tindakan
dalam PTK ini adalah:
1. Seluruh siswa
kelas IX masih belum terampil dalam menggunakan alat mikroskop.
2. Banyak konsep yang salah pada siswa kelas IX
dalam menggunakan alat mikroskop.
3.
Sikap aktif dan kooperatif siswa selama mengikuti proses pembelajaran masih
rendah.
B.
Setting
Lokasi Dan Subyek penelitian.
Setting lokasi PTK
ini adalah MTs. Muhammadiyah 09 Weru kecamatan paciran kabupaten lamongan,
kelas IX, jumlah Semester Gasal. Tahun pelajaran 2014/2015.
C.
Metode
Pengumpulan Data.
Metode pengumpulan
data yang dilakukan peneliti bersama guru mitra kolaborasi pada PTK ini melalui
pencatatan hasil di lapangan meliputi tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap
observasi, dan tahap refleksi sampai dengan siklus III. Peneliti bersama guru mitra kolaborasi
berhenti sampai pada siklus III karena sudah menganggap cukup representatif dalam
melakukan tiga kali pengulangan.
D.
Metode
Analisis Data.
Data
yang sudah diperoleh bersama guru mitra kolaborasi sejak penelitian dimulai
hingga akhir yang meliputi tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi,
dan tahap refleksi selanjutnya dianalisis bersama-sama berdasarkan kajian
pustaka dan interpretasi berdasarkan pengalaman guru.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
A.
Gambaran
Seting Penelitian.
Penelitian Tindakan
Kelas mengambil seting di MTs. Muhammadiyah 09 Weru Kecamatan Paciran Kabupaten
Lamongan, pelaksanaannya mengikuti tahapan sebagai berikut:
1. Tahap
perencanaan, meliputi pemilihan dan penetapan materi pembelajaran dan model
pembelajaran yang digunakan. Model pembelajaran yang digunakan adalah model
pembelajaran Direct Instruction.
2. Tahap
tindakan, meliputi seluruh proses kegiatan pembelajaran model pembelajaran
Direct Instruction, mulai dari penyampaian tujuan pembelajaran (TIK),
mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, pemberian latihan terbimbing,
mengecek pemahaman dan umpan balik hingga memberikan kesempatan untuk latihan
lanjutan dan penerapannya. Media yang digunakan adalah alat Mikroskop.
3. Tahap
observasi, dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran, meliputi
pengembangan materi, aktivitas siswa dan hasil belajar siswa.
4. Tahap
refleksi, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran dan penyusunan rencana
perbaikan pada tahapan (siklus) berikutnya. Pelaksanaan penelitian dilakukan
secara kolaborasi dengan guru mitra yang membantu dalam pelaksanaan observasi
dan refleksi selama penelitian berlangsung supaya dapat terkontrol obyektivitas
penelitiannya sehingga menghasilkan penelitian yang valid.
B.
Penjelasan
Tiap Tahapan (Siklus).
Penjelasan tahapan-tahapan
(siklus) penelitian tindakan kelas ini disajikan pada tiga siklus sebagai
berikut :
1. Siklus I (pertama)
Tabel I : Tahapan kegiatan siklus I
|
No |
Perencanaan |
Tindakan |
Observasi |
Refleksi |
|
1 |
a. Menyampaikan tujuan
pembelajaran dan menyiapkan siswa b. Mereview
pengetahuan atau keterampilan pra syarat. c. Menyampaikan materi
pelajaran dan mendemonstrasikan keterampilan d. Pemberian latihan
terbimbing e. Mengecek pemahaman
dan umpan balik f. Memberikan
kesempatan untuk latihan lanjutan dan penerapannya |
a.
Guru
menyampaikan TPK, informasi latar belakang pembelajaran, dan pentingnya
pelajaran b.
Membentuk kelompok ( 3 kelompok @ 7 anak) c.
Guru
memberikan beberapa pertanyaan awal d.
Guru
menjelaskan materi pelajaran dan mendemonstrasikan keterampilan cara menggunakan alat Mikroskop tahap demi tahap
secara benar. e.
Guru
merencanakan dan memberi bimbingan awal f.
Mengecek
apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik atau belum g.
Guru
mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan |
a.
Mengamati
perilaku siswa. b.
Memantau
kerjasama antar siswa c.
Mengamati
prosedur kerja siswa saat praktek d.
Mengamati
keaktifan kerja siswa saat mebuat laporan e.
Mengamati
hasil laporan siswa |
a.
Mencatat hasil observasi b.
Mengevaluasi hasil observasi c.
Menganalisis hasil observasi d.
Memperbaiki kelemahan untuk
tindakan siklus II |
2. Siklus II (ke dua).
Tabel II : Tahapan kegiatan siklus
II
|
No |
Perencanaan |
Tindakan |
Observasi |
Refleksi |
|
2 |
a.
Menyampaikan
tujuan pembelajaran b.
Menyampaikan
hasil refleksi siklus I c.
Menyampaikan
kekurangan pada siklus I d.
Pemberian
latihan terbimbing lanjutan e.
mengecek
pemahaman dan umpan balik f.
Memberikan
kesempatan untuk latihan lanjutan dan penerapannya |
a.
Guru
menyampaikan TPK dan hasil siklus I b.
Menbentuk
kelompok ( 3 kelompok @ 7 anak) c.
Guru
memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok. d.
Guru
memberikan bimbingan lanjutan pada kelompok yang masih kurang mampu. e.
Mengecek
berhasil kerja siswa. f.
Guru
mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan |
a.
Mengamati
perilaku siswa. b.
Memantau
kerjasama antar siswa c.
Mengamati
prosedur kerja siswa saat praktek d.
Mengamati
keaktifan kerja siswa saat mebuat laporan e.
Mengamati
hasil laporan siswa |
a.
Mencatat
hasil observasi b.
Mengevaluasi
hasil observasi c.
Menganalisis
hasil observasi d.
Memperbaiki
kelemahan untuk tindakan siklus III |
3. Siklus III ( ke tiga)
Tabel III : Tahapan kegiatan siklus
III
|
No |
Perencanaan |
Tindakan |
Observasi |
Refleksi |
|
3 |
a.
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa b. Menyampaikan hasil
refleksi II c. Menyusun rencana
perbaikan d. Pemberian latihan terbimbing
lanjutan e. mengecek pemahaman dan
umpan balik lanjutan f. Mengoptimalkan waktu. |
a.
Guru menyampaikan TPK, dan hasil siklus II b. Menbentuk kelompok ( 3
kelompok @ 7 anak) c. Guru memberikan
bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok. d. Guru memberikan
bimbingan lanjutan pada kelompok yang masih kurang mampu. e. Mengecek
berhasil kerja siswa. f. Diskusi kelas
tentang hambatan saat melakukan praktek. g.
Menarik kesimpulan. |
a.
Mengamati
perilaku siswa. b.
Memantau
kerjasama antar siswa c.
Mengamati
prosedur kerja siswa saat praktek d.
Memantau
diskusi siswa e.
Mengamati
hasil laporan siswa |
a.
Mencatat
hasil observasi b.
Mengevaluasi
hasil observasi c.
Menganalisis
hasil observasi d.
Menyusun
laporan |
C.
Proses
Analisis Data.
Proses analisis
data hasil penelitian disajikan dalam tiga siklus sebagai berikut:
I. Siklus I (pertama).
Dalam proses
pembelajaran pada siklus pertama diperoleh hasil sebagai berikut:
A.
Kelompok I (satu)
Tabel IV : Hasil kegiatan siklus I
kelompok I
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
|||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat pembelajaran |
2 |
3 |
1 |
1 |
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
0 |
2 |
5 |
0 |
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
0 |
0 |
4 |
3 |
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
0 |
0 |
5 |
2 |
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
0 |
0 |
0 |
7 |
Interpretasi :
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok I mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop masih rendah. Hal ini disebabkan anggotanya masih kurang mengerti
manfaat alat mikroskop dan belum terbiasakan menggunakannya, dan alat mikroskop
masih dianggap sebagai sesuatu yang baru. Perlu diberikan pengertian dan bimbingan.
B.
Kelompok II (dua)
Tabel V : hasil kegiatan siklus I
kelompok II
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
|||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
0 |
1 |
3 |
3 |
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
1 |
2 |
4 |
0 |
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
2 |
2 |
1 |
2 |
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
2 |
2 |
3 |
0 |
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
0 |
0 |
7 |
0 |
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok II mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop cukup bagus. Hal ini disebabkan beberapa anggotanya ada yang sedikit
mengerti manfaat alat mikroskop dan pernah menggunakannya, dan anggota yang
mengerti tersebut mendominasi dalam kelompok. Prosedur kerjanya masih kurang. Cara
membuat laporannyapun belum mampu. Perlu arahan dan bimbingan.
C.
Kelompok III (tiga)
Tabel VI : hasil kegiatan siklus I
kelompok III
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
0 |
4 |
2 |
1 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
0 |
4 |
3 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
1 |
4 |
2 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
0 |
0 |
7 |
0 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
0 |
1 |
3 |
3 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok III mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop sudah bagus. Hal ini disebabkan beberapa anggotanya ada yang sedikit
mengerti manfaat alat mikroskop dan pernah menggunakannya, dan anggota yang
mengerti tersebut mendominasi dalam kelompok. Namun bentuk kerjasama dan tahap
diskusi saat membuat laporan masing kurang. Cara membuat laporan masih belim mengert.
Perlu arahan dan bimbingan.
II. Siklus II (ke dua).
Dalam proses
pembelajaran pada siklus ke dua diperoleh hasil sebagai berikut:
A.
Kelompok I (satu)
Tabel VII : hasil kegiatan siklus II
kelompok I
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
2 |
3 |
2 |
0 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
3 |
4 |
0 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
3 |
3 |
1 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
0 |
3 |
3 |
1 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
2 |
2 |
3 |
0 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok I mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop sudah ada peningkatan cukup bagus. Hal ini disebabkan para anggotanya
termotivasi belajar setelah mengerti manfaatnya, dan sudah mengerti cara
menggunakan alat mikroskop. Masih perlu dibimbing.
B.
Kelompok II (dua)
Tabel VIII : Hasil kegiatan siklus
II kelompok II
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
4 |
3 |
0 |
0 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
3 |
4 |
0 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
2 |
4 |
1 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
3 |
4 |
0 |
0 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
2 |
2 |
3 |
0 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok II mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop sudah meningkat bagus. Namun cara membuat hasil laporannya masih
kurang bagus. Sehingga perlu dibimbing.
C.
Kelompok III (tiga)
Tabel IX : Hasil kegiatan siklus II
kelompok III
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
|||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
4 |
3 |
0 |
0 |
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
3 |
3 |
1 |
0 |
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
3 |
4 |
0 |
0 |
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
4 |
3 |
0 |
0 |
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
2 |
3 |
2 |
0 |
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok III mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop sudah bagus. Cara membuat hasil laporan kerja juga sudah bagus.
Kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan pelatihan lanjutan.
III. Siklus III (ke
tiga)
Dalam proses
pembelajaran pada siklus ke tiga diperoleh hasil sebagai berikut :
A.
Kelompok I (satu)
Tabel X : Hasil kegiatan siklus III
kelompok I
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
5 |
2 |
0 |
0 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
5 |
2 |
0 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
6 |
1 |
0 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
6 |
1 |
0 |
0 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok I mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop pada siklus ke tiga sudah bagus. Hal ini akibat para anggotanya
termotivasi belajar dan sudah mendapatkan pengulangan pelatihan beberapa kali,
Cara membuat laporannya sudah bagus. Kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk
mendapatkan pelatihan lanjutan.
B.
Kelompok II (dua)
Tabel XI : Hasil kegiatan siklus III
kelompok II
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
6 |
1 |
0 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok II mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop pada siklus ke tiga sudah bagus dan sesuai dengan yang diharapkan.
Cara membuat laporannya sudah bagus. Kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk
mendapatkan pelatihan lanjutan.
C.
Kelompok III (tiga)
Tabel XII : Hasil kegiatan siklus
III kelompok III
|
No |
Aspek
yang dinilai |
Jumlah
tingkat Kemampuan anak |
||||
|
Baik
sekali |
Baik |
Cukup |
Kurang |
|
||
|
1 |
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
2 |
Kerjasama
antar siswa dalam satu kelompok saat praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
3 |
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
5 |
2 |
0 |
0 |
|
|
4 |
Diskusi
penyususunan laporan praktikum |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
|
5 |
Hasil
laporan siswa |
7 |
0 |
0 |
0 |
|
Interpretasi:
Keseriusan
dan kesadaran siswa kelompok II mengikuti pembelajaran menggunakan alat
mikroskop pada siklus ke tiga sudah bagus dan sesuai dengan yang diharapkan.
Cara membuat laporannya sudah bagus. Kelompok ini sudah memenuhi syarat untuk
mendapatkan pelatihan lanjutan.
D.
Pembahasan
dan Pengambilan Kesimpulan.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam menggunakan alat
mikroskop melalui model pembelajaran direct instruction pada siswa kelas IX
sangat memuaskan. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan. Baik perilaku/sikap siswa saat praktikum, kerjasama antar siswa
dalam satu kelompok saat praktikum, prosedur kerja siswa saat praktIkum, diskusi
penyususunan laporan praktikum, dan pengumpulan hasil laporan praktikum siswa.
Penjelasan hasil tersebut tergambar pada tabel berikut :
Tabel XIII : Profil prosentase hasil
penelitian perilaku siswa saat pembelajaran
|
Aspek
penilaian |
Siklus |
Tingkat
Kemampuan |
Jumlah
Skor Kelompok I,II
dan III |
Prosentase (%) |
|
Perilaku/sikap
siswa saat praktikum |
Siklus I |
Baik Sekali |
2 |
9,52% |
|
Baik |
8 |
38,09% |
||
|
Cukup |
8 |
38,09% |
||
|
Kurang |
5 |
23,80% |
||
|
Siklus II |
Baik
Sekali |
10 |
47,61% |
|
|
Baik |
9 |
42,85% |
||
|
Cukup |
2 |
9,52% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
||
|
Siklus III |
Baik
Sekali |
19 |
90,47% |
|
|
Baik |
2 |
9,52% |
||
|
Cukup |
0 |
0% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
Tabel XIV : Profil prosentase hasil
penelitian kerjasama siswa
|
Aspek
penilaian |
Siklus |
Tingkat
Kemampuan |
Jumlah
Skor Kelompok I,II
dan III |
Prosentase (%) |
|
Kerjasama antar siswa dalam
satu kelompok saat praktikum |
Siklus I |
Baik Sekali |
1 |
4,76% |
|
Baik |
8 |
38,09% |
||
|
Cukup |
12 |
57,14% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
||
|
Siklus II |
Baik Sekali |
9 |
42,85% |
|
|
Baik |
11 |
52,38% |
||
|
Cukup |
1 |
4,76% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
||
|
Siklus III |
Baik Sekali |
19 |
90,47% |
|
|
Baik |
2 |
9,52% |
||
|
Cukup |
0 |
0% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
Tabel XV : Profil prosentase hasil penelitian
prosedur kerja siswa
|
Aspek
penilaian |
Siklus |
Tingkat
Kemampuan |
Jumlah
Skor Kelompok I,II
dan III |
Prosentase (%) |
|
Prosedur
kerja siswa saat praktek |
Siklus I |
Baik Sekali |
1 |
4,76% |
|
Baik |
6 |
28,57% |
||
|
Cukup |
7 |
33,33% |
||
|
Kurang |
5 |
23,80% |
||
|
Siklus II |
Baik Sekali |
8 |
38,09% |
|
|
Baik |
11 |
52,38% |
||
|
Cukup |
2 |
9,52% |
||
|
Kurang |
1 |
4,76% |
||
|
Siklus III |
Baik Sekali |
17 |
80,95% |
|
|
Baik |
4 |
19,04% |
||
|
Cukup |
0 |
0% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
Tabel XVI : Profil prosentase hasil
penelitian diskusi menyusun laporan
|
Aspek
penilaian |
Siklus |
Tingkat
Kemampuan |
Jumlah
Skor Kelompok I,II
dan III |
Prosentase (%) |
|
Diskusi penyususunan
laporan praktikum |
Siklus I |
Baik
Sekali |
2 |
9,52% |
|
Baik |
2 |
9,52% |
||
|
Cukup |
15 |
71,42% |
||
|
Kurang |
2 |
9,52% |
||
|
Siklus II |
Baik
Sekali |
7 |
33,33% |
|
|
Baik |
10 |
47,61% |
||
|
Cukup |
3 |
14,28% |
||
|
Kurang |
1 |
4,76% |
||
|
Siklus III |
Baik
Sekali |
21 |
100% |
|
|
Baik |
0 |
0% |
||
|
Cukup |
0 |
0% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
Tabel XVII : Profil prosentase hasil
penelitian laporan siswa
|
Aspek
penilaian |
Siklus |
Tingkat
Kemampuan |
Jumlah
Skor Kelompok I,II
dan III |
Prosentase (%) |
|
Hasil
laporan siswa |
Siklus I |
Baik
Sekali |
0 |
0% |
|
Baik |
1 |
4,76% |
||
|
Cukup |
10 |
47,61% |
||
|
Kurang |
10 |
47,61% |
||
|
Siklus II |
Baik
Sekali |
6 |
28,57% |
|
|
Baik |
7 |
33,33% |
||
|
Cukup |
8 |
38,09% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
||
|
Siklus III |
Baik
Sekali |
20 |
95,24% |
|
|
Baik |
1 |
4,76% |
||
|
Cukup |
0 |
0% |
||
|
Kurang |
0 |
0% |
Tabel XVIII: Grafik profil hasil
penelitian
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan.
Kesimpulan yang dapat ditarik
dari PTK ini adalah sebagai berikut :
1.
Keterampilan siswa menggunakan alat mikroskop
selama proses pembelajaran dengan model direct instruction dapat muncul dan
menunjukkan peningkatan yang baik. Informasi demikian ditunjukkan pada tabel
profil prosentase dan grafik profil hasil penelitian mulai siklus I, siklus II
dan siklus III. Semuanya penunjukkan gejala peningkatan secara signifikan.
2.
Aktivitas siswa
untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri mulai dari perilaku / sikap
siswa saat pembelajaran, kerjasama antar siswa saat praktikum, melaksanakan
kegiatan sesuai prosedur kerja, diskusi menyusun laporan praktikum dan membuat
hasil laporan praktikum menunjukkan peningkatan.
B.
Saran.
1.
Melihat hasil yang
baik pembelajaran menggunakan model direct instruction ini, maka sudah saatnya
pembelajaran tentang menggunakan alat mikroskop yang menggunakan cara
pendekatan pembelajaran konvensional diganti. Sebab pembelajaran model
konvensional kurang efektif, monoton dan cenderung bisa berdampak menimbulkan
salah persepsi pada tingkat pemahaman siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad
Manna, dkk. 2006. IPA Fisika SMP kelas VII . Jakarta : Intan Pariwara.
Aqib,
Zaenal. 2001. Profesional Guru Dalam Pembelajaran . Surabaya : Insan Cendikia.
Kasbolah,
Kasihani. 2001. Penelitian Tindakan Kelas . Malang : UM.
Marsigit.
1996. Pembenahan Gaya Mengajar (Teaching Style) . Bandung: Cakrawala
Pendidikan.
Moeloeng,
Lexy J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Sugiyarto,
T. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP Kelas VII . Jakarta : Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Tarjo,
Bejo. 2005. Lembar Kerja Siswa. Surakarta : Grahadi.
Uzer
Usman, Moh. 1996. Menjadfi Guru Profesional . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar